Thursday, June 26, 2008

dansatulagi

Ini adalah kisah cinta, tentang paduan kasih yang melantunkan ragu. Saling cakap dan tak berani bertatap. Menunduk, cukup senang dengan gambaran yang muncul dikepalanya sendiri. Tak peduli bila dunia menggambar berbeda, tak peduli walau nanti harus, kan itu nanti. Dia adalah sahabatku. Kata itulah yang menjadi tameng atas kecewa yang ditakutkan di nantinya. Bebaslah belenggu kata dan takut akan sakitnya cerita atas kasih yang selainnya. Walau tertusuk tapi tersenyum juga. Dia adalah sahabatku, dari situlah peduliku, dan dariku hanyalah bunga-bunga untuk hatinya. Maka serangan yang menyusul kemudian adalah tusukan datang bertubi-tubi.

Kuhela nafas,berharap alirannya mampu menyapu sesak di dada.. hmmmaaahh... lalu kukembangkan senyum.. mencoba memberitahunya,sahabatku.

Namun, ini adalah kisah cinta, tentang paduan kasih yang melantunkan ragu. Saling cakap dan menunduk. Melempar senyum dan berharap balas. Dan bila tidak, maka serangan yang menyusul kemudian adalah diam,sunyi,batu,kepala, dan angkuh. Dia adalah sahabatku, kuberharap paling tidak teruslah begitu.

Sunday, May 4, 2008

Hari ini gerah merambah

Takkan mungkin tanah pekaranganku itu akan selalu kering. Seperti dunia yang selalu merubah arah wajahnya terhadap bimasakti. Gemintang di atas pun tak selalu ada untuk kau nikmati di setiap detik-detik malam. Sempurnanya purnama selalu bepergian, tak pernah kerasan ia menghiburmu sepanjang bulan. Meninggalkan kita dengan setengah-sabit-kegelapan. Siang ini gerahmerambah,mengetuk setiap lubang pori-poriku yang bagai pintu tak berdaun itu. Seperti siang-siang yang tlah lalu. Namun kurasa musim ini ada yang berbeda .....

Pohon mangga di pekarangan rumah sebelah menatap merah pada matahari yang telah mengambil bayangannya. Rumput-rumput kecil tiada berdaya, kepayahan menahan derita akibat pelindung hitamnya merayap pergi sudah seperti asalnya. Ayam-ayam pun tampak enggan berjalan-jalan kesana-kemari seperti biasanya.

Monday, April 28, 2008

Sapa rubah pada Rindu

Dan dia bergeming di tepi pantai itu ...

Sudah berapa lama sebenarnya kau tidak menyapaku kawan? Apakah ada yang memberati hatimu itu? Pikiranmu... Atau apikah itu dan darikah aku? Pada dia yang tinggal setelah deburan ombak sisi lain pantai ini kubertanya, dan untukku adalah pembenaran ucapanmu. Ingin aku memberimu setangkai mawar ini. Semoga putihnya mampu menjernihkan kekeruhan yang menggayutimu....heheh..Berkunjung...Namun sudikah ombak yang perkasa itu menghantarkannya? Sekotak coklat..Kau mau? Cicipilah itu memang untukmu.. Dan tentang mawar putih itu,tak apa bila tak suka,buang saja.. Ku tak peduli. Itu punyamu..

Hmmm bicaralah.... Jawab aku... Begitu teganya kah kau membiarkanku tak tentu... Atau apikah itu dan darikah aku? “

Monday, April 21, 2008

Tiba-tiba tiba

Dearest, Girl with Her always Him

Mungkin tak kau kira ku kan kembali lagi padamu. Menuang rindu pada cangkir-cangkir laparmu, kosong melompong kayak matamu itu. Biji hitam nan menarik. Tarik ulur waktu itu,menyelami rasa-resa-risu. Suka-puti-kaus. Setiakah kulitmu padanya? Juga air dingin yang membeku, pun waktu. Kerna detik tak lagi berdetak di ruangan pengap. Persilakan dudukumohon. Kerna penat bertualang membutuhkan labuhan. Tatapan juga senyuman. Tempat pulang kembali. Sayu-sejuk-perdu. Membangunkan kenangan lalu. Menjadi lebih berharga. Saat semua berlalu.

Begitu mahal adalah sungginganmu, yang walaupun begitu semampuku kupertukarkan. Maaf bila begitu lama. Samudra itu berombak kawan. Beribu jumlahnya. Belum bila buih ikut kau cacah pula. Namun singkirkan itu dulu,semuanya. Nikmati saja isi cangkirmu, dan terus tatap aku dengan tajam sorotan hitam. Tunjuki diri ini arti reuni. Sehingga bisa kusyukuri apa yang kembali.

Dearest, Girl with Her always Him, always..forever..



Thursday, April 17, 2008

Varda Elentari

With Manwë dwells Varda, Lady of the Stars, who knows all the regions of Eä. Too great is her beauty to be declared in the words of Men or of Elves; for the light of Ilúvatar lives still in her face. In light is her power and her joy. Out of the deeps of Eä she came to the aid of Manwë; for Melkor she knew from before the making of the Music and rejected him, and he hated her, and feared her more than all others whom Eru made. Manwë and Varda are seldom parted, and they remain in Valinor. Their halls are above the everlasting snow, upon Oiolossë, the uttermost tower of Taniquetil, tallest of all the mountains upon Earth. When Manwë there ascends his throne and looks forth, if Varda is beside him, he sees further than all other eyes, through mist, and through darkness, and over the leagues of the sea. And if Manwë is with her, Varda hears more clearly than all other ears the sound of voices that cry from east to west, from the hills and the valleys, and from the dark places that Melkor has made upon Earth. Of all the Great Ones who dwell in this world the Elves hold Varda most in reverence and love. Elbereth they name her, and they call upon her name out of the shadows of Middle-earth, and uplift it in song at the rising of the stars.(--From:Valaquenta-The Silmarillion--)


Mencooba menerjemahkan.. Mohon masukannya ya...

Bersama Manwe tinggallah Varda, ratu dari bintang-bintang, yang mengenal semua wilayah di alam semesta. Kecantikannya terlalu agung untuk diungkapkan dalam bahasa manusia bahkan bahasa elf sekalipun, karena cahaya sang Iluvatar tinggal diparasnya. Cahaya adalah kekuatan, dan kebahagiannya. Dari luar semesta ini dia datang memenuhi panggilan Manwe, karena Melkor yang dikenalnya bahkan sebelum penggubahan Lagu itu telah ditolaknya pula, dan lalu Melkor pun membecinya, Varda pun menjadi yang paling ditakuti oleh Melkor daripada ciptaan Eru lainnya. Manwe dan Varda tak terpisahkan, mereka selalu bersama di valinor. Aula mereka di atas salju abadi yaitu di Oilosse menara tertinggi dari Taniquetil, gunung tertinggi di muka bumi. Ketika Manwe di singgasananya mengamati, bila Varda disampingnya, dia melihat lebih jauh dari semua mata yang ada,menembus kabut dan kegelapan, dan kedalam samudra. Dan bila Manwe bersama Varda,maka Varda mampu mendengar lebih jelas dari semua telinga yang ada, suara dari timur hingga barat, dari lembah-lembah dan bukit-bukit, dan dari kegelapan tempat-tempat kekuasaan Melkor. Dari semua yang agung yang datang ke dunia ini, para Elf paling mencintai dan menghormati Varda. Elbereth begitulah para Elf itu menyebutnya, nama yang mereka panggil-panggil dari bayang-bayang yang membayangi Middle-earth, dan mereka angkat juga dalam Lagu kemunculan bintang-bintang.

Tuesday, April 15, 2008

Sapa rubah pada petani

"Mengapakah kautatap rumput itu selamanya? Adakah dalam hijaunya yang menarik hati? Bukankah coklat kering sudah keadaannya... Sudah kau bisu dan itu lalu dan tlah lalu, sekarang tuli pula dirimu... Jangan-jangan buta juga iya. Tatapan takjub yang dulu itu, kepada angkasa dan jagat raya, di kini sebagai celah hitam antara dua lubang gelap. Menunduk."

Beridiri tegap kokoh..menunduk.

"Ya ini juga cuma sapa.. anggaplah bagai angin lalu, biarkan jangan pedulikan, atau kentut yang membuatmu muntah dan memalingkan muka muak. Memandang luas angkasa. Laut Biru dikedalaman sana."

Berdiri menunduk.. tegap kokoh.

"Tak apalah bila kau mau teruskan. Hidup terus hidupkan. Memberi helaan pada setiap nafas. Ini cuma sapa.. jangan sampe menghentikan rangkakanmu"

Monday, April 14, 2008

Sepenggal kisah heroik


Pernahkah kau mendengar sebuah cerita tentang seorang pahlawan. Bila jawabanmu tidak maka akan kuceritakan kepadamu. Ini adalah cerita yang pasti kan kaudengar walau pun jawabanmu tadi iya. Untuk mengingatkanmu kembali pada cerita yang pernah kau dengar, pada lakon yang pernah kauhidupkan. Percayalah pada ceritaku yang akan tetap kuceritakan padahal kau bilang sudah tahu,padahal kau bilang tidak peduli,padahal kau tidak akan menggubrisnya benar-benar. Walau Kau berlalu seperti kilat.

Dia adalah pahlawan di matahari tinggi,yang ketika terik berteriak tetaplah terngiang purnama semalam.

Dia adalah batu membisu, terkikis perlahan oleh aliran zaman, bertambah mulus di segala sisi, dan terus saja sunyi.

Dia adalah lautan yang dalam, terus saja berdesir menarik pasir ,namun cinta adalah hal yang meluap-luap. Tak sanggup lagi menampung hal selainnya.

Dia adalah bintang.Sungguh. Kau menatapnya bersama bintang yang lain menerawang asal muasal cahaya yang berkedip. Setelah itu kau biarkan ia diantara riuh rendah keramaian. Jauh dan terlupakan. Ia tetap di sana.


Begitulah.. Semoga kau tidak mengerti...

Older Posts